Saya adalah anggota ILUNI FTUI (Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia). Bulan Maret 2008 lalu, saya sempat merasa bingung sekali dengan konflik yang seolah menggejolak dalam paguyuban ini, seolah memaksa saya harus tegas memilih “siapa kawan, siapa lawan”.
Beruntung ada seorang senior, Om Iyoes, yang menganjurkan saya mempelajari manajemen konflik agar mampu menempatkan diri dengan baik dan jangan sampai mengalami “gajah berkelahi dengan harimau, pelanduk mati di tengah-tengah”. Jadilah saya berkelana di dunia web dan akhirnya memutuskan untuk memburu buku bertajuk Conflict Management yang saya temukan di sini.
Saya menelepon ke Gramedia se-Jakarta, ternyata buku terbitan tahun 2007 ini sudah out of stock dan tidak diimpor lagi. Pencarian via telepon dilanjutkan ke jaringan toko buku Kinokuniya, akhirnya saya berhasil membelinya seharga Rp.216,000 di Plaza Senayan, Jumat – 11 April 2008.

Sang pengarang menyebut isi bukunya sebagai “…all about soft skills for hard situations. Technical knowledge you currently have may well be obsolete in five years’ time, the soft skills will still be relevant in twenty or thirty years’ time.”
Buku ini diawali dengan pengenalan mengenai konflik. Pendapat umum menganggap bahwa konflik berkorelasi dengan perasaan-perasaan negatif, komunikasi yang terputus, terhentinya proses koordinasi, dll. Padahal ada juga bagusnya, toh paling tidak pihak-pihak yang berkonflik akhirnya berkesempatan untuk secara terbuka menyatakan ketidak-puasan masing-masing sehingga saling mengetahui cara pandang “lawan” yang sebelumnya “tertekan”.
Ada beberapa hal yang diuraikan Eunson sebagai penyebab timbulnya konflik, perbedaan masing-masing hal itu menyebabkan berbeda pula penanganannya (conflict handling style):
1. Competing
2. Collaborating
3. Compromising
4. Avoiding
5. Accomodating
Bab II menjelaskan mengenai Conflict Development. Bisa terjadi konflik lalu “muter-muter” sehingga digambarkan dalam diagramnya sebagai conflict spiral dan memerlukan strategi yang berbeda dalam usaha keluar dari setiap fase konflik yang berbeda “tingkat ruwetnya”. Dituliskan juga definisi dan contoh konflik dalam organisasi yang dikategorikan sebagai:
• Vertical conflict (antara bawahan dengan atasan langsungnya)
• Horizontal conflict (antar karyawan pada level yang sama dan mengerjakan hal yang sama)
• Staff-line conflict (antar karyawan yang mengerjakan hal yang berbeda dalam satu tim yang sama)
• Role conflict (karyawan menerima instruksi yang bertentangan dari lebih satu orang atasan, biasanya karena ketidak-jelasan job description)
Banyak sekali metode pendekatan yang bisa diambil dalam menghadapi konflik. Bagi saya, yang paling menarik dari 20 strategi yang ditawarkan Eunson adalah praise. Dicontohkan pada saat krisis senjata di Kuba tahun 1962, Amerika Serikat secara terbuka dengan cepat menunjukkan penghargaannya kepada Uni Soviet yang saat itu terpaksa menarik semua hulu ledak yang sudah dikirim ke negara pro-komunis tersebut. Dunia menyaksikan bahwa konflik akhirnya selesai dengan “cantik” tanpa membuat Uni Soviet semakin “panas” akibat merasa “dikalahkan”. Strategi yang lain adalah apology, forgiveness, negotiation, tit for tat, dll.
Seandainya diperlukan mediator dalam menyelesaikan konflik antar pihak, buku ini juga menjelaskan karakteristik yang harus dimiliki si penengah (objektif, suportif, tidak berprasangka, mampu bertanya dengan tepat dan memberi saran dengan bijak, mampu menerapkan win-win solution sehingga pihak yang tadinya bertikai akhirnya menjadi bergandengan tangan sebagai problem solving partners). Dijelaskan juga metode mediasi beserta langkah demi langkah yang mesti diambil.
Sebagian besar dari kita pasti mengenal diagram di bawah ini:
: SAYA MENANG : SAYA KALAH
—————————————————————————————————–
ANDA MENANG : (+) positive sum : (0) zero sum
—————————————————————————————————–
ANDA KALAH : (0) zero sum : (-) negative sum
—————————————————————————————————–
Hanya win/win solution yang akan membawa hasil positif dan konstruktif. Tidak ada yang diuntungkan jika konflik berakhir win/lose solution atau lose/win solution (pepatah kita menyebutnya “menang jadi arang, kalah jadi abu”). Sangat menyedihkan jika lose/lose solution yang terjadi…bayangkan kalau kedua perempuan yang sama-sama mengaku sebagai ibu kandung Nabi Sulaiman tetap ngotot supaya si bayi dibelah dua secara fisik sesuai dengan titah sang raja!
Contoh yang menarik, bisa saja dua orang anak berebut sebutir jeruk namun setelah didiskusikan ternyata yang si kakak ingin membuat jus sementara si adik hanya memerlukan kulitnya sebagai bahan campuran untuk membuat kue. Terlihat jelas bahwa negosiasi menjadi kata kunci. Empat bab terakhir dalam buku ini dipakai untuk menjelaskan dengan detail mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan dan pelaksanaan negosiasi untuk mendapatkan win/win solution.
Jadi jangan lupa, Anda bisa menciptakan konflik melalui langkah-langkah berikut:
• Planning
• Goal setting
• Compromise
• Mediation
Eunson menegaskan, “Conflict can spiral out of control, but if you understand how the spiral works you may be able to prevent it from even beginning.”
Selamat mulai berkonflik, namun ingatlah untuk menciptakan skenarionya demi dinamika organisasi untuk kebaikan bersama agar tidak berujung “liar” dan akhirnya hanya menjadikan saling benci, tiada lain tiada bukan karena semua pihak terlanjur merasa jadi “korban konflik” (akibat lose/lose solution).