Mac ‘n Cheese

I like pasta so much, I cant do that “ketogenic diet” which requires me to avoid carbohydrate. One of my favourite dish is Pizza Hut’s Mac ‘n Cheese.

https://www.pizzahut.co.id/menu/paket#product-show-268

I wanted it for lunch at office today, then I made it in the morning.

It’s easy:

– Boil one small pack of macaroni (12 minutes), drain it, mix well with one small can of corned beef.

– Mix flour with salt, powdered black pepper, non-MSG cooking powder in another bowl.

– Heat a frying pan, melt some margarine, pour flour mixture, add UHT milk and shredded cheddar cheese, stir until become a thick paste before add macaroni, mix well.

– Grease baking pan with margarine, pour macaroni and cheese into the pan and put slices of mozzarella cheese as topping, bake 40 minutes.

Yummy!

Advertisements

Pendidikan Politik Buat ABG Zaman Now

Beberapa hari yang lalu, Alif bilang: “Bunda, guruku khan mau muterin film G-30-S/PKI di sekolah,”

What?

Saya kaget. Pertama, film itu beberapa adegannya terlalu sadis dan durasi yang lama (3 jam) bisa merusak keceriaan dunia ABG karena real sekali. Bukan fiksi yang bisa dikomentari “ah, itu khan cuma film” seperti I Know What You Did Last Summer.

Kedua, beberapa adegan yang hanya rekaan (terutama percakapan antar tokoh) bisa jadi dianggap kenyataan sejarah padahal sebenarnya tidak pernah ada.

“Ih, ngapain?” tanya saya.

“Katanya biar anak-anak tahu kekejaman PKI. Komunis khan kejam ya Bunda? Bung Karno malah belain komunis, Pak Harto yang jadi pahlawan pembasmi komunis,”

OMG. Terpaksalah saya menerangkan apa itu komunis, yaitu ideologi “sama rata sama rasa” yang saat ini jadi dasar sistem pemerintahan di Rusia, China, Jepang dll. Dengan bahasa sederhana yang saya harap bisa dimengertinya, satu demi satu saya terangkan macam-macam ideologi dari teokratis, sekuler, komunis, kapitalis, atheis, zionis, sampai hedonis.

Pengikut ideologi komunis tidak berarti identik dengan atheis (tak bertuhan) karena di Indonesia dulu aktivis PKI pun asalnya berorganisasi di Sarekat Islam. Mereka memang tak berperikemanusiaan membunuh lawan-lawan politik, tapi kekejaman begitu pun sudah banyak dilakukan orang bahkan Muslim yang hafal Qur’an (maka Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib, Imam Hussein bin Ali dan keturunannya pun selalu dipersekusi atau dibantai oleh sesama Muslim hanya demi merebut/mempertahankan tampuk kekuasaan).

Bung Karno bukan pembela komunis. Beliau menolak membubarkan “PKI pembunuh jenderal”, saya perkirakan karena akal sehatnya mengetahui bahwa tujuh orang Pahlawan Revolusi itu diincar oleh “Dewan Revolusi” yang bergerak karena termakan hoax adanya “Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta tanggal 5 Oktober 1965”.

Kalaupun Soeharto dianggap pahlawan, saya kira kurang tepat karena “pembasmi PKI” yang sebenarnya justru Komandan RPKAD saat itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Soeharto beruntung ketiban sampur menjadi pejabat presiden di tahun 1967 yang harusnya hanya sementara “sampai diadakan pemilu” namun ternyata menjadi presiden yang bertahan hingga 7 pemilu kemudian (1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997) berkat mesin politik Golkar yang dikendalikannya.

“Enak aja, Soeharto itu bukan pahlawan!” sergah saya.

Ibu saya, yang di tahun 1966 masih bersekolah di SMA Boedi Oetomo dan ikut turun ke jalan beraksi memperjuangkan “Tritura”, pun tertawa. “Bundamu khan yang nurunin Soeharto,” terangnya.

“Emang kenapa Soeharto diturunin Bunda?” tanya Alif.

Setengah jam berikutnya, saya pun menerangkan bagaimana Soeharto berkongkalingkong dengan kroni-kroninya, Tien Soeharto yang konon berjulukan “Mrs Ten Percent”, Sempati Air, mobil Timor, BPPC, sampai Pertamina dll BUMN yang diperlakukan sebagai ATM sehingga dana yang harusnya masuk APBN untuk kesejahteraan rakyat malah mengalir memperkaya keluarga itu, cukup buat tujuh turunan tujuh tanjakan, tersimpan sebagai aset property di manca negara juga dalam rekening-rekening bank di luar negeri.

Saya harus menerangkan itu semua supaya Alif mengerti bahwa, dulu, emaknya ini juga pernah mengadakan aksi-aksi melawan presiden. Tapi kami dulu menentang pemerintahan yang korup dan otoriter, kami memperjuangkan bangkitnya pemerintahan yang bersih dan demokratis supaya Indonesia menjadi lebih makmur dan kaya, rakyatnya menjadi lebih sejahtera. Malu dong ah ketinggalan sama Manila yang sudah punya LRT sejak tahun 1984 (padahal Ferdinand Marcos itu juga presiden yang korup dan otoriter) sementara Jakarta puluhan tahun punya monorel cuma bisa buat muter-muterin Taman Mini (apa susahnya bikin jalur keliling kota?).

Saya harus menjelaskan bahwa ada pepatah “Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.” supaya semoga kelak Alif bisa tepat menentukan sikap entah mendukung atau menentang pemerintahan.

Bung Karno, Soeharto, Gus Dur, tiga orang Presiden RI diturunkan paksa dari jabatan tertinggi di negara ini karena rakyat terpengaruh isu-isu politik plus terpuruknya kondisi ekonomi.

Dua hal itu memang paling “pas” untuk menjatuhkan pemerintahan di Indonesia. Semoga Alif akan cerdas menyikapi isu-isu politik (Istana sarang PKI, Jokowi anak PKI, ada 60 juta orang anggota PKI saat ini, dll) dan isu-isu ekonomi (daya beli melemah sehingga toko-toko banyak tutup, utang negara bertambah, dll) serta mampu melihat dengan jernih kondisi bangsa yang kini akhirnya giat membangun infrastruktur dan gencar membasmi korupsi. Semoga dia tak akan percaya pada hoax yang disebarkan orang-orang penghasut yang bertujuan membangkitkan kebencian bahkan horizontal terhadap sesama rakyat.

Nak, musuh kita yang sebenarnya sekarang adalah kelompok-kelompok penghambat pembangunan yang hare gene masih demen korupsi, kolusi, nepotisme menghalangi pemerintah dari usaha-usaha mensejahterakan rakyatnya.

Sekarang Alif Bertali Sepatu Putih

Senin siang kemarin waktu saya masih di kantor, tiba-tiba masuk pesan via WhatsApp dari Alif. Sepatu, dasi dan topinya disita pihak sekolah sesudah upacara bendera, tidak dikembalikan lagi sampai waktu pulang. Saya shock.

Perasaan shock berubah menjadi marah karena ternyata Alif harus mengikuti pelajaran olah raga, Agama Islam, Bahasa Inggris tanpa mengenakan sepatunya, bahkan sampai dia pulang ke rumah.

Malam tadi saya tanyakan, “Jadi pelajaran olah raganya Mas Alif nggak pake sepatu?”

Dia jawab, “Ya iya,”

“Loncat-loncat, lari-lari gitu?”

“Iya, khan ada latihan volley,”

“Sakit dong kakinya?”

“Nggak terlalu sih,” (anak ini memang jarang mengeluh)

Sekolahnya memang mengeluarkan “panduan berbusana” yang mewajibkan murid bersepatu “model warior”, dilengkapi dengan foto-foto dalam buku “MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH”, mungkin supaya orang tua “angkatan 90an” seperti saya bisa paham bahwa yang dimaksud adalah model yang dibilang “sepatu basket” di zaman kami dulu.

Berhubung Converse All Star asli tentu terlalu mahal buat anggaran kami, maka saya carikan dia versi kw yang hanya Rp.60 ribuan harganya di online shop. Sudah 5 pasang saya belikan di Lazada atau Tokopedia atau Blanja (tergantung mana yang kebetulan lagi paling murah) sejak masuk SMP, 15 bulan yang lalu, berhubung setiap pasang biasanya hanya awet buat dipakai selama 3-4 bulan saja.

Sejak beberapa minggu lalu, dia mengenakan pasangan sepatu kelima yang tanpa saya sadari berbeda dari yang sebelumnya: Bertali warna hitam. Ternyata jadi masalah, dirampas oleh pihak sekolah.

Padahal: TIDAK ADA TERCANTUM DALAM PERATURAN SEKOLAH BAHWA SEPATUNYA HARUS BERTALI PUTIH.

Saya tentu tak bisa terima. Kalau memang harus bertali putih, bukan perkara besar karena saya punya sepatu Nike dll yang bisa dipakaikan dulu talinya ke sepatu Alif kalaupun saya belum sempat belikan khusus buat sepatu dia. Sakit sekali hati ini karena tanpa peringatan sebelumnya Alif diperlakukan sebagai pesakitan begitu di pelajaran olah raga yang pastinya banyak lari-lari dan loncat-loncat pula. Bayangkan rasanya kalau dia tak bersepatu.

Soal dasi dan topi juga membuat saya kesal sekali. Sewaktu masuk SMP dulu, setiap orang tua/wali murid dipersilahkan membeli seragam dan kelengkapannya sendiri tanpa melalui perantara sekolah. Hanya atasan batik (untuk dipakai setiap Kamis), baju koko (seragam setiap Jum’at), dan ikat pinggang yang harus dibeli di koperasi sekolah karena ada printing yang khusus menampilkan logo SMP itu. Karena itu,saya pun membeli dasi dan topi buat Alif melalui Tokopedia, harganya jauh lebih murah daripada harga barang yang sama yang dijual di koperasi sekolah.

Sebenarnya kalau memang harus beli di sekolah, saya malah senang kok, ketimbang ribet beli sendiri ke pasar panas-panas nawar-nawar plus urusan parkir. Alif itu dari playgroup, TK, SD di Muhammadiyah yang swasta memang selalu seragamnya beli sepaket seharga sekian ratus ribu yang dijual pihak sekolah. No big deal. Buktinya waktu bulan lalu dia kebagian jadi petugas pengibar bendera pun saya belikan satu set seragam paskibra komplit sampai peci dan pinnya, sarung tangan dan penutup lehernya, seharga lebih dari Rp.200 ribu walaupun saya tahu mungkin hanya akan dia pakai setahun sekali.

Sudah 15 bulan di SMPN itu, selama ini tidak masalah dengan dasi/topinya karena peraturan sekolah tidak menyebut secara detail dalam “BUKU PENGHUBUNG”, jadi boleh dong mengenakan dasi/topi yang beli di Tokopedia itu.

Terus terang, saya jadi kaget ternyata seragam Senin-Selasa harus ada badge bertuliskan lokasi sekolah (yang bentuknya melengkung itu). Kedua seragam putih Alif nggak ada badge-nya! Untung nggak dirampas juga.

“Mas, ini peraturan sekolah katanya baju putih harus pake badge lokasi lho. Kok Mas Alif nggak pernah minta beliin?”

“Habisnya khan mahal Rp.5,000 harus beli di koperasi…aku pernah bilang tapi Bunda nggak pernah ngasih duitnya,”

Astaga, mau nangis nggak sih? Mungkin dia pernah bilang, saya tanggapi “kok mahal banget” sehingga dia nggak berani minta uang untuk membelinya. Ya ampun Nak, goceng doang…

😥

Anyway, berhubung sepatu barunya entah dikemanakan oleh pihak sekolah, pagi ini saya bongkar-bongkar lagi untungnya masih ketemu sepatu lamanya yang sudah hancur itu namun kebetulan belum dibuang. Guess what: TALINYA HITAM! Kok yang ini nggak pernah dirampas? Mungkin karena dulu Gubernur DKI masih Ahok yang galak mecatin kepala sekolah?

Akhirnya saya ambilkan tali sepatu putih dari sepatu keds saya yang mahal dan masih baru, original branded items (khan nggak dipakai tendang-tendang kayak Alif…dulu pernah kesel juga waktu beliin dia sepatu futsal Reebok yang hancur dalam waktu beberapa kali latihan saja). Konyol kalau sampai dirampas lalu dia pulang nyeker lagi.

Waktu dia pamit berangkat sekolah, saya bilang: “Nanti Bunda ke sekolah Mas Alif ya Sayang, mau ketemu Pak Faqih,”

Dia larang, “Nggak usah ah, Bunda. Nanti aku aja yang cari sepatunya,”

“Ya khan Bunda sekalian mau beliin dasi dan topi baru di koperasi,”

“Khan mahal, Rp.25,000. Yang Bunda beli di Tokopedia cuma Rp.7,000,”

“Ya harus beli di koperasi, Nak, biar mahal juga. Masa’ Mas Alif nggak pake dasi/topi, nggak kayak yang lain?”

“Ya udah, sini duitnya, aku aja yang beli, Bunda nggak usah ke sekolah,”

“Nggak ada duitnya sekarang. Bunda mesti ke ATM dulu, baru nanti ke sekolah Mas Alif beli dasi/topinya ya Nak,”

Mukanya terlihat tertekuk, dia pasti nggak senang emaknya ke sekolah karena alamat bikin heboh. Tapi saya harus ketemu Pak Faqih! Apa dasarnya dia rampas sepatu Alif bikin anak kesayangan saya nyeker seharian sampai pulang?

PS. Sebenarnya saya keberatan kalau kasus perampasan ini jadi viral. Kuatir bikin pihak sekolah jadi nggak senang, Alif jadi dianggap “pengacau”, gimana kalau dia malah jadi dipersulit ke depannya? Ke mana saya harus mengadu kalau Koh Ahok yang ditakuti se-Jakarta itu tidak ada lagi di Balai Kota? Makanya saya nggak akan share nama sekolahnya, ketimbang nyusahin anak sendiri.

Sejarah Terlupakan Bahwa Merah Putih Seharusnya Berkibar di Indonesia, Malaysia, Singapura

Ketika di Indonesia dibentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, 8 Maret 1945, Ibrahim Haji Yaakob segera mendesak pihak Jepang bahwa jika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Tanah Melayu agar dimasukkan pula ke dalam wilayah Indonesia Raya.

Usaha itupun diikuti dengan menghubungi golongan nasionalis Indonesia yang sedang menyusun Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, agar kemerdekaan Indonesia mengikutsertakan Tanah Melayu yang ternyata disetujui pula oleh golongan nasionalis Indonesia. Dengan demikian, tidak ada lagi keraguan bagi tokoh-tokoh pergerakan Melayu dalam usahanya mencapai kemerdekaan. Dalam pada itu, pihak Jepang sendiri terkesan ikut mendorong usaha-usaha itu. Realisasinya adalah diadakannya pertemuan antara Prof. Akamatsu dari pihak Jepang dan wakil Kesatuan Melayu Muda (KMM), Ibrahim Yaakob, Hassan Manan, Onan Siraj, dan Ramly Hj. Tahir, 26 Juli 1945 di Singapura. Hasilnya adalah bahwa pihak Jepang menyatakan kesediaannya untuk memberi kemerdekaan bagi Tanah Melayu.

Dua hari berikutnya, diadakan pula pertemuan kedua yang dari pihak Jepang diwakili Prof. Itagaki. Dalam pertemuan itu, pihak Jepang meminta agar Ibrahim Yaakob dan kawan-kawan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepentingan kemerdekaan Tanah Melayu. Dari sinilah kemudian dibentuk KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung), akhir Juli 1945, yang merupakan semacam penyusunan kembali KMM dengan Ibrahim Yaakob dan Dr. Burhanuddin Al-Helmy sebagai pimpinannya.

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, rombongan Sukarno–Hatta singgah dahulu di Taiping, 11 Agustus 1945 dan esok harinya (12 Agustus 1945) mengadakan perundingan dengan Ibrahim Yaakob dan Burhanuddin selaku pimpinan KRIS sehubungan dengan persiapan penggabungan kemerdekaan Indonesia–Tanah Melayu. Dalam pertemuan itu, Sukarno menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diselenggarakan minggu berikutnya. Ibrahim Yaakob juga menyatakan bahwa ia akan mengirimkan wakil-wakil dari Tanah Melayu dan wakil KRIS ke Jakarta untuk hadir mengikuti upacara kemerdekaan Indonesia.

Berbagai perundingan dan rencana boleh dipersiapkan. Perjalanan sejarah ternyata harus mencatat lain. Rencana yang telah dipersiapan lewat berbagai perundingan itu, tinggal hanya rencana. Pernyataan menyerah tanpa syarat dari pihak Jepang kepada Sekutu 14 Agustus, kapitulasi Jepang kepada Sekutu, Agustus dan “penculikan” Sukarno—Hatta ke Rengasdengklok, 16 Agustus oleh kelompok pemuda radikal, Sukarni dan kawan-kawan, dan dorongan kuat dari pimpinan dan para pejuang kemerdekaan Indonesia sendiri, telah “memaksa” Sukarno–Hatta bertindak cepat dan “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”; segala sesuatu berjalan begitu cepat. Malam harinya, persiapan dilakukan. Teks proklamasi disusun. Bendera merah-putih, disiapkan. Tanggal 17 Agustus 1945, tepat pukul 10.00 wib, di Jln. Pegangsaan Timur, No. 56, teks proklamasi dibacakan, bendera Sang Saka Merah-Putih dikibarkan, dan Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Itulah saat Indonesia menyatakan kemerdekaan, tanpa di dalamnya memasukkan wilayah Tanah Melayu.

(dikutip dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=201790&val=1213&title=GERAKAN%20BUDAYA%20MENJELANG%20KEMERDEKAAN%20INDONESIA-MALAYSIA)

Sesudah kekalahan Jepang itu, ketika Indonesia sudah merdeka, Malaysia dan Singapura malah kembali menjadi negara jajahan sejak tahun 1946. Inggris kemudian memerdekakan Federasi Malaya (kumpulan kesultanan-kesultanan Melayu bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara) di tahun 1957, digabungkan dengan Sabah, Serawak, Brunei menjadi Negara Persekutuan Malaysia di tahun 1963 yang memancing amarah Bung Karno hingga dilancarkanlah aksi “ganyang Malaysia”.

Ketika akhirnya Singapura menjadi negara tersendiri terpisah dari Malaysia di tahun 1965, negara itu akhirnya mengibarkan Sang Merah Putih dengan tambahan bulan sabit dan bintang-bintang yang sekilas khas Islam namun kemudian dijelaskan bahwa bulan sabit adalah lambang “negara muda” yang baru mulai bersinar dan lima bintang itu untuk “democracy, peace, progress, justice and equality”.

1508660279127.jpg

Asal tahu aja nih, belakangan di Malaysia mulai ada usaha-usaha mengganti bendera nasional mereka kembali menjadi merah putih lhooo…para demonstran membentangkan rancangan baru bendera negara saat peringatan hari kemerdekaan ke-55 di tahun 2012 yang terlihat seperti gabungan antara bendera Indonesia dan Singapura: Terdiri dari dua warna merah dan putih. Di bagian merah terdapat bulan sabit dan matahari berwarna kuning.

https://www.merdeka.com/dunia/warga-malaysia-mulai-benci-bendera-negaranya.html

warga-malaysia-mulai-benci-bendera-negaranya

AYO BUNG, REBUT KEMBALI! #eh

Kubah Masjid, Serta Lambang Bintang dan Bulan Sabit Itu Katholik Banget

Sebagian besar Muslim tidak tahu bahwa kubah masjid yang khas berbentuk bulat dengan bulan sabit dan bintang di puncaknya itu aslinya tradisi gereja Kristen Ortodoks.

Bentuk kubah masjid di seluruh dunia hampir seluruhnya bulat karena meniru bentuk kubah Hagia Sophia, masjid terbesar pertama di dunia yang tadinya katedral pusat ibadah umat Katholik sejak abad ke-3 di Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Pada saat Sultan Mehmet (Muhammad Al Fatih dalam Bahasa Arab) menaklukkan kekaisaran itu di tahun 1453, Hagia Sophia tidak dihancurkan melainkan diubah fungsinya menjadi masjid dengan tambahan menara-menara di sekeliling bangunan utama.

Belakangan ketika sultan-sultan Osmanli Imperatorlugu (Ottoman Empire atau Bani Utsmaniyah dalam Bahasa Arab) yang berdarah Mongol itu mendirikan masjid-masjid baru atau merenovasi masjid-masjid lama, kubahnya pun bulat seperti Hagia Sophia seperti kita lihat hingga kini di seluruh dunia dari Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque yang dibangun tahun 1616 tepat di depan Hagia Sophia) di Istanbul, Masjid Al Aqsha di Palestina (kubah An Nabi dibangun tahun 1538), Masjid Nabawi di Madinah (kubah hijau yang dibangun oleh Sultan Mahmud di tahun 1818), Masjid Ali bin Abi Thalib (Blue Mosque di Mazari Syarif, Afghanistan), sampai Masjid Istiqlal di Jakarta.

Bulan sabit sendiri aslinya lambang Diana atau Dewi Artemis, dipuja sebagai dewi pelindung Kekaisaran Romawi. Kaisar Konstantinopel, kaisar Romawi yang pertama memeluk Kristiani (pendahulu-pendahulunya selalu menindas umat pemeluk ajaran Yesus alayhi salam) menambahkan bintang lambang Bunda Maria alayhi salam pada lambang bulan sabit itu.

Ketika lambang bulan sabit dan bintang itu ditemukan di seantero Konstantinopel, sultan-sultan Dinasti Osman tidak mengubahnya bahkan menggunakannya menjadi lambang kekaisaran mereka yang bertahan hingga kini sebagai bendera Republik Turki.

Legendanya, bayangan bulan sabit dan bintang itu terpantul di atas merahnya genangan darah pada suatu malam sesudah kemenangan pasukan mereka di Kosovo di tahun 1448 yang pada waktu itu meneguhkan supermasi kekuatan perang Muslim atas kerajaan-kerajaan di Eropa yang mayoritas Kristen (sehingga Konstantinopel praktis sudah terkepung dan akhirnya direbut Muslim, lima tahun kemudian).

Sumber: http://www.allaboutturkey.com/flag.htm

Banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim akhirnya juga menggunakan lambang bulan sabit dan bintang di masa modern ini. Di antaranya Malaysia. Sebagai sesama bekas koloni Inggris seperti AS, benderanya pun bergaris-garis merah putih hanya berbeda dengan tambahan bulan sabit bukan hanya bintang.

Bendera Singapura malah merah putih karena sempat akan bergabung dengan Indonesia pasca kekalahan Jepang di Asia Tenggara. Namun karena Bung Karno dan Bung Hatta hanya memproklamasikan kemerdekaan bekas koloni Belanda akhirnya mereka pun bukan bagian dari NKRI hanya benderanya masih sama dengan kita dengan modifikasi penambahan bulan sabit dan bintang.

Jadi, umat Katholik juga berhak lho menggunakan lambang bulan sabit dan bintang seperti Muslim karena justru mereka yang pertama menggunakannya.

🙂

​Tutupnya Penjara-Penjara di Belanda dan Swedia

Ibu saya, nenek-nenek yang hobby nonton CNN, NatGeo dll ketimbang sinetron, tadi pagi bilang: “Banyak penjara tutup tuh di Belanda dan Swedia, kekurangan penjahat kayaknya,”

Hehehehe…mungkin butuh impor penjahat dari Jakarta? Di satu gerbong KRL aja udah ada berapa belas pencopet tuh.

On serious note, setelah browsing sana sini ternyata ada beberapa faktor dasar yang melatari sepinya penjara-penjara di kedua negara itu. Selain kesinisan beberapa politisi mereka yang berpendapat bahwa sepinya penjara bukan karena menurunnya jumlah kejahatan melainkan kemalasan polisi mengejar dan menangkapi penjahat, beberapa hal ini bisa kita pelajari untuk meningkatkan penanggulangan kejahatan di Indonesia.

Pertama: Aging population. Semakin besar persentase rakyat berusia lanjut di sana (berbeda dengan Indonesia yang saat ini menikmati “bonus demografi” karena jumlah penduduk usia produktif jumlahnya 70% dari total populasi) berarti kecil kemungkinan mereka berbuat kriminal.

Kedua: Anak mudanya sekarang lebih banyak berdiam di rumah dengan komputer atau gadget masing-masing ketimbang nongkrong keluyuran nggak jelas kayak ABG alay lebay kita yang masih norak pengen eksis dengan ikut genk motor, tawuran, sampai adu teman sekolah sendiri a la pertarungan gladiator sampai ada yang mati seperti di Bogor tempo hari.

Ketiga: Penerapan “ankle monitor”. Ketimbang di penjara membebani keuangan negara menyediakan tempat, makanan, pegawai pengawas dll ternyata Belanda sejak beberapa belas tahun belakangan banyak menerapkan tahanan luar, baik tahanan rumah maupun tahanan kota. Penjahat yang dihukum wajib mengenakan gelang pemantau di kaki yang setiap saat mengirim laporan di mana lokasi mereka. Penjahat yang melanggar hukuman dengan meninggalkan rumah/kota akan langsung terpantau, ditangkap, beresiko menjalani hukuman yang jauh lebih berat.

Di internet ternyata banyak forum yang anggotanya mempertanyakan cara melepaskan gelang kaki itu. Semua jawaban sama: Bisa, bahkan mudah sekali dengan obeng atau ada yang cukup digunting, tapi itu adalah tindakan yang sangat bodoh sekali karena otomatis memicu sensor di pusat kontrol sehingga polisi akan langsung meluncur menangkap si penjahat. It doesnt worth the risk, selain akan mendapatkan hukuman yang lebih berat juga akan didenda biaya pengganti gelang kaki yang minimal Rp.7 juta per unit.

Menkumham Yasonna Laoly mungkin bisa mengambil langkah ini untuk menyiasati penuhnya penjara-penjara yang membebani keuangan negara juga menimbulkan masalah lebih besar antar sesama narapidana. Pemerintah Hawaii sedang mempertimbangkan hal itu juga karena masalah yang sama.

Pemasangan gelang kaki begitu sepertinya akan sangat efektif menjerakan penjahat karena sebagian besar di sini kejahatan dilakukan berulang kali oleh orang yang sama. Residivis yang merampok sebelumnya juga dihukum karena merampok tapi ternyata tidak kapok.

Tentu harus dibarengi program rehabilitasi dan pendampingan, tahanan rumah/kota atas kejahatan pencurian/perampokan/penipuan mesti diberi pelatihan keterampilan dan peluang kerja yang memberi mereka kesempatan mendapat nafkah dengan jalan halal. Yang melakukan kejahatan seksual juga harus mendapatkan pendampingan psikologis agar tak melakukan lagi perbuatannya. Tapi kalau pembunuh, bandar narkoba, koruptor sih tetap harus dibui kalau perlu dihukum mati.

Momennya sekarang tepat sekali di saat bisnis online sedang booming di Indonesia. Hampir seluruh kebutuhan kita sehari-hari bisa diperoleh dengan berbelanja melalui situs-situs di internet atau aplikasi di gawai.

Gimana kalau kita bikin “napi online mart”? Jadi, ada media yang mengakomodir agar barang-barang produksi napi (makanan, pakaian, dll) bisa dibeli oleh masyarakat luas.

Have a blessed Sunday!

Ayo Pantau APBD Kita!

Anies punya track record “salah hitung” tunjangan guru sebesar Rp.23,3 triliun di tahun 2016.

http://regional.kompas.com/read/2016/08/27/15412711/salah.hitung.anggaran.tunjangan.guru.rp.23.3.triliun.ini.penjelasan.kemendikbud

Jangan lupa juga borosnya menganggarkan €10 juta (Rp.146 miliar) untuk ikut pameran buku di Frankfurt yang berlangsung 5 hari saja (14-18 Oktober 2015) dan hanya membawa 200 judul buku pula.

http://www.tribunnews.com/nasional/2015/10/29/ikut-frankfurt-book-fair-kemendikbud-habiskan-rp-146-miliar

Membaca beritanya “berhasil” membuat seorang pemilik tanah setuju bongkar tokonya untuk pembangunan MRT, saya kuatir jangan-jangan sekali lagi alumni FE UGM (PhD nya di bidang politik) ini “main iya aja” lalu terlanjur menyetujui permintaan ganti rugi jauh di atas NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) maupun appraisal.

Awalnya: “Yang dibayar Rp 33 juta ada. Tapi yang cuma Rp 12,5 juta ada, yang Rp 25 juta juga ada,” kata Mahesh, salah satu warga di lokasi itu, Sabtu (21/10/2017).

Atas dasar itu, Mahesh menganggap penghitungan ganti rugi lahan yang dulunya dilakukan Pemprov DKI tidak sesuai peraturan. Hal itulah yang membuatnya, dan sejumlah warga lainnya, menolak menerima begitu saja uang ganti rugi.

“Karena ada yang nerima Rp 33 juta, ada yang Rp 25 juta, yang di bawah Rp 25 juga ada. Padahal harusnya kan konsisten. UU khan nggak berubah. Tapi kok nilainya berubah,” ujar Mahesh.

Keengganan Mahesh dan sejumlah warga menerima ganti rugi diketahui menyebabkan Pemprov DKI membawa kasusnya ke ranah hukum. Dalam perkembangannya, beberapa bulan lalu Pengadilan Jakarta Selatan memutuskan Pemprov DKI harus membayar ganti rugi lahan senilai Rp 60 juta per meter.
Mahesh menyatakan, dia dan warga lainnya menerima putusan dan sempat ke Balai Kota untuk meminta agar lahannya segera dieksekusi. Namun Pemprov DKI justru mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/21/14302251/uang-ganti-rugi-mrt-untuk-warga-fatmawati-berbeda-beda

Apakah Anies mengiyakan Rp 60 juta per meter yang sesuai UU menurut warga?

“Kami sudah bilang Pak, lahan kami boleh dipakai tapi tolong sesuai UU,” kata Mahesh.

“Jadi boleh nih ya eksekusi,” tanya Anies.

“Boleh, bongkar sekarang juga boleh, Pak. Sekarang saya ajak Bapak, saya lebih senang,” jawab Mahesh.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/20/18330641/tak-sampai-sejam-anies-bersepakat-dengan-pemilik-lahan-haji-nawi

Padahal appraisal menentukan harga tanah di sana Rp 26 juta per meter persegi, sudah di atas harga NJOP yang sebesar Rp 13 juta per meter persegi. Warga tidak menerima tawaran yang diberikan Pemprov senilai Rp 26 juta per meter persegi karena mereka meminta harga lebih dari dua kali lipat, yakni senilai Rp 50 juta hingga Rp 150 juta per meter persegi. Tentunya Pemprov DKI tidak bisa membayar lahan mereka, karena tidak sesuai dengan appraisal, sehingga bisa dianggap melanggar hukum.

Karena itulah Pemprov menolak melakukan eksekusi, malah mengajukan kasasi.

http://m.viva.co.id/berita/metro/800009-pembebasan-lahan-mrt-warga-keukeuh-minta-harga-tinggi

Lahan yang harus dibeli dari warga untuk pembangunan  luasnya 138.093 meter persegi, Dinas Bina Marga melalui APBD 2016 dan APBD Perubahan hanya memegang Rp 250 miliar untuk membebaskan 102 bidang tahun lalu.

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/08/10443621/jalan.panjang.pembebasan.lahan.untuk.proyek.mrt.

Warga yang keukeuh minta ganti rugi tinggi itulah yang membuat pembebasan lahan molor dari target selesai di bulan Desember 2016. Masih ada 4 orang yang menuntut ganti rugi sampai Rp 150 juta per meter seperti Mahesh.

http://poskotanews.com/2017/10/20/anies-minta-eksekusi-pembebasan-lahan-mrt-di-fatmawati-dipercepat/

Apakah Anies akan mampu mengelola dana rakyat sesuai anggaran? Ataukah keberpihakannya lebih pada memenuhi tuntutan ganti rugi yang berlipat di atas nilai wajar?

Buat warga DKI yang gajinya di atas PTKP Rp 4,5 juta per bulan (sehingga harus dan taat bayar PPh 21): Ayo pantau ketat gimana pajak yang saban bulan kita setor itu dibelanjakan oleh Anies-Sandi!

#jangankasihkendor