Revolusi Islam?

Kejadian khutbah provokatif di beberapa daerah pada Shalat Idul Fitri dua hari yang lalu, yang paling viral adalah bubarnya jama’ah di Alun-Alun Wonosari, mengingatkan saya pada awalnya Revolusi Iran 1979.

Gaya hidup Shah Reza Pahlevi dan keluarganya yang mewah berfoya-foya (ya begitulah kehidupan kalangan monarki seperti di Brunei, Arab Saudi, UAE, dll) sementara rakyat masih banyak yang miskin membuat kaum ulama yang zuhud menjadi figur kecintaan (beda dong sama habib di Jakarta yang naik Rubicon itu).

Pola represif diterapkan untuk menekan pergolakan, namun tak mungkin menghalangi hasrat rakyat untuk mengadakan Shalat Idul Fitri berjama’ah, izin harus dikeluarkan.

Pada tanggal 4 September 1978 akhirnya diadakan Shalat Idul Fitri yang dihadiri ratusan ribu orang di tiga kota kota paling penting di negara itu (Tehran, Mashhad, Qom). Sesudah selesai shalat (dimulai pukul 8:00 pagi) lalu mendengarkan khutbah, jama’ah tidak bubar melainkan mengadakan long march hingga pukul 21:00 menuntut dibebaskannya para tahanan politik terutama para ulama yang dipenjara karena menentang Shah, dan didirikannya negara Islam (biar kekinian kalau istilah FPI sih namanya NKRI bersyariah, tapi “I” singkatan dari “Iran”). Itu baru tuh yang namanya “aksi bela Islam” dan “aksi bela ulama”.

Beberapa hari kemudian pecahlah kerusuhan di mana-mana yang memakan korban jiwa.

http://navideshahed.com/en/news/362778/martyr-mofatteh-the-one-who-prevailed-on-the-historic-eid-al-fitr-of-1978

Iranian_Revolution_in_Shahyad_Square

Sejarah kemudian mencatat akhirnya Shah Mohammad Reza terpaksa meninggalkan Iran menuju Mesir pada tanggal 16 Januari 1979, lalu Ayatullah Khomeini kembali ke Iran pada tanggal 1 Februari 1979.

Imam_Khomeini_in_Mehrabad

Republik Islam Iran akhirnya berdiri menggantikan sistem pemerintahan monarkis pada tanggal 1 April 1979 dengan presiden pertamanya Sayyid Abolhassan Banisadr (namanya “sayyid” pasti ahlul bayt nih).

https://www.britannica.com/biography/Mohammad-Reza-Shah-Pahlavi

Deklarasi itu bukan maunya Ayatullah Khomeini sendiri lho ya. Sesudah Shah meninggalkan negara itu, pemerintahan sementara mengadakan referendum tanggal 30-31 Maret 1979. Dari 20,288,851 suara yang masuk, tercatat 20,147,855 suara (99.3%) menginginkan berdirinya republik Islam. Telak banget khan? Sementara di sini, di Pilkada DKI lalu, dengan berjilid-jilid demo se-Indonesia pun Basuki-Djarot yang mereka bilang “penista agama” masih mendapatkan 42.05% (2,351,245 suara).

https://en.wikipedia.org/wiki/Iranian_Islamic_Republic_referendum,_March_1979

Seandainya diadakan referendum NKRI-nya Jokowi vs NKRI Bersyariah-nya Rizieq, palingan yang vote sono ya cuma 7 juta orang “alumni 212”, buang-buang duit aja…warga NU sing nderek Pakdhe yo pitung-lapan puluh yuto.

https://desrinda.wordpress.com/2017/01/19/rizieq-dan-nkri/

Kalau Rizieq Shihab memimpikan dirinya akan disambut pulang seperti Ayatullah Khomeini (diasingkan setahun di Turki tahun 1964, kemudian di Iraq selama 13 tahun sebelum terakhir beberapa bulan di Prancis sebelum kembali ke Iran), maka jauhlah panggang dari api.

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40089552

Mbok yo mikir sitik, ini lebaran nggak ada lonjakan harga, pemudik dimanjakan habis-habisan, listrik dan BBM dibayar dengan harga sepantasnya (ketimbang judulnya bersubsidi malah salah sasaran), presiden dan jenderal-jenderalnya dekat dengan kalangan ulama dan jama’ah NU, keluarga Istana hidup sederhana jualan martabak, dari Sabang sampai Merauke dicintai rakyat.

Silahkan Rizieq mengasingkan diri di luar negeri sampai tahun 2024 kalau presiden di sini sudah ganti (kayak dulu Prabowo Subianto sekeluarga 10 tahun mengasingkan diri berkelana di luar negeri pasca bapaknya ikut pemberontakan PRRI Permesta).

​Seandainya Saya Masuk Islam

Saya dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, karena waktu itu ayah saya almarhum mengajar di AKABRI semasa SBY masih taruna. Tapi keluarga saya aslinya Baturaja, Sumatera Selatan, yang tradisi Islamnya kuat sekali sehingga “terpaksa” saya belajar mengaji sejak TK hingga tamat SMA, dua kali seminggu dengan guru yang didatangkan ke rumah. Tahun-tahun pertama, pelajarannya hanya “alif di atas a, alif di bawah i, alif di depan u, a i u…” kemudian surat-surat pendek dari Al Fatihah sampai An Nas.

Belakangan pelajarannya bertambah. Pak Haji Biddin, marbot masjid dekat rumah yang mengajar saya semasa SMP-SMA, bukan lagi sekadar membimbing membaca Qur’an ayat demi ayat dengan tajwid, bolak balik khatam berkali-kali (selama enam tahun tinggal di Sekip Ujung, Palembang), tapi juga menjelaskan tafsir dan asbabun nuzul. Sedihnya, waktu itu saya sedang jadi ABG labil. Susah diatur. Bawaannya pengen nakal karena tersiksa sekali dengan segala aturan orang tua yang mengekang. Jadilah segala ajaran Wak Biddin nyaris nggak ada yang nempel di kepala, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sekarang rasanya menyesal sekali.

Anyway waktu itu saya merasa sudah on the right track. Islam is my path. My way of life. Bukan sekedar agama warisan (karena kebetulan dilahirkan di keluarga Muslim), tapi bertahun belajar ngaji itu menyakinkan saya bahwa memang Islam ajaran agama yang saya pilih. Belakangan waktu kuliah di UI ada teman yang dua kakak beradik lahir di keluarga Muslim lalu memutuskan meninggalkan warisan mereka, yang satu menjadi umat Katholik, adiknya mengikuti ajaran Kristen Protestan. Fine with me. Mereka pastinya memilih ajaran kasih sayang Yesus alayhi salam yang mengorbankan diri menjadi penebus dosa umatnya, sementara Muslim harus bertanggung jawab atas dosa masing-masing.

Kewajiban Muslim pun jauh lebih berat dari umat agama lain. Wajib berdoa 5x sehari, tidak cukup hanya morning mass atau seminggu sekali ke gereja. Puasa pun harus sebulan penuh. Zakat harus dibayar. Hanya berhaji yang diberi judul “jika mampu”. Kalau berdoanya kurang dari 5x sehari (17x bersujud pada waktu-waktu yang ditentukan) maka Muslim langsung tercatat sebagai pendosa.

Kalau berpakaian tidak menutup aurat juga langsung jadi pendosa. Apa lagi kalau berbohong, korupsi, berzina, berjudi, mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan (alkohol atau narkoba dan semacamnya), menyakiti/membunuh sesama mahluk hidup bukan untuk mempertahankan diri, dll. Makan babi aja nggak boleh, makan hewan bertaring atau menjijikkan itu haram, makan hewan yang hidup di dua alam juga nggak boleh, mengkonsumsi jenis protein hewani lain pun harus yang disembelih dengan menyebut nama Allah dan melalui prosedur tertentu (agar tidak menyiksa). Makan hewan laut pasti “aman”, tapi repotnya nggak boleh dimasak/dihidangkan dengan menggunakan alat-alat yang digunakan untuk memasak babi, juga nggak boleh kalau pernah dijilat anjing, kecuali sudah disucikan dengan dibasuh 7x (salah satunya dengan tanah).

Jadi, saya maklum kalau ada yang memutuskan mengikuti ajaran agama lain yang lebih sederhana dan gampang diikuti daripada Islam. Sebaliknya saya salut kalau ada umat beragama lain yang pindah keyakinan menjadi Muslim dengan segitu banyaknya kewajiban dan larangan. Yang tadinya asyik aja jalan ke mana-mana bercelana pendek, jadi diceramahi harus berkerudung. Sudah berkerudung pun nggak boleh jilboobs, bajunya harus longgar tanpa menunjukkan lekuk tubuh. Bajunya sudah longgar pun masih dibilangin supaya jilbabnya panjang melintasi dada dan pinggul. Sudah berjilbab syar’i, kalau masih berwarna warni akan dibilangin cuma boleh hitam atau berwarna gelap supaya tidak menarik perhatian. Cukup? Belum. Sekalian kalau keluar rumah ada yang mengharuskan Muslimah menutup muka dan bersarung tangan, berkaus kaki, serba hitam supaya semilimeter pun kulit nggak boleh terlihat oleh laki-laki non mahram yang gampang ngacengan.

Jangan lupa, nggak boleh bersuara juga karena laki-laki itu bisa terangsang kalau mendengar suara perempuan. Seorang teman berseloroh, “Ya gitu deh… Volume darah kami, para lelaki, tidak cukup untuk memfungsikan dua kepala; atas dan bawah secara bersamaan…”

#tepokjidat

Laki-laki memang racun dunia. Situ yang gampang horny, kok jadi perempuan yang disalahin. Kalau nggak pada jelalatan nafsuan, dan ini alasan terjadinya pembunuhan pertama manusia (Kain membunuh Habil karena ingin memperistri perempuan yang lebih cantik), nggak perlu tuh ada ayat-ayat “ulurkan jilbab ke seluruh tubuh” (Al Ahzab [33:59]) dan “menutupkan kerudung ke dada” (An Nur [24:31]). Eh malah jadi OOT.

Kembali ke laptop…

Dengan segitu banyak kewajiban dan larangan, ternyata banyak aja orang yang memilih menjadi Muslim dengan kesadaran sendiri. Belum ada catatan yang pernah saya baca mengenai bagaimana Islam menjadi agama mayoritas penduduk di Pulau Sumatera (keturunannya kemudian menjadi komunitas Muslim di kawasan Indonesia Timur, juga mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Filipina sebelum gugusan 7 ribu pulau itu dijajah Spanyol lalu menjadi negara Katholik nomor 3 terbesar di dunia). Namun mengenai dakwah Wali Songo di Pulau Jawa banyak sekali referensinya.

Para wali yang keturunan Imam Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu dan Fatimah binti Muhammad radiallahu anha itu berdakwah dengan menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran moderat yang membawa nilai-nilai demokratis.

http://kbbi.web.id/moderat

moderat/mo·de·rat/ 1 selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem; 2 berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Huud [11:112])

Selain kewajiban dasar terhadap Allah (shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan), ibadah yang lain nggak boleh melampaui batas. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam melarang shalat sepanjang malam sampai nggak tidur, juga nggak boleh berpuasa terus-terusan (kalaupun mau ya maksimal puasa Nabi Daud yang selang seling sehari berbuka sehari puasa).

Demokratisnya karena sistem kepemimpinan dalam Islam selepas wafatnya Kanjeng Sayyidina Nabi itu berdasarkan baiat pilihan umat, bukan jabatan yang diwariskan turun temurun a la Bani Umayyah/Abbasiyah/Utsmaniyah.

Sistem pemerintahan di Arab Saudi yang monarkis itu nggak Islami. Yang jadi raja akhirnya bukan yang terbaik menurut konsensus umum melainkan semaunya yang bertahta aja. Nggak boleh tuh kayak Raja Salman mencabut kedudukan putra mahkota dari keponakannya Muhammad bin Nayef bin Abdulaziz Al Saud (harusnya Nayef bin Abdulaziz Al Saud yang giliran naik tahta menggantikan Raja Abdullah kalau nggak keburu meninggal tahun 2012) lalu diberikan kepada anaknya sendiri Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, bikin ribut pangeran-pangeran lain. Yang bener ya kayak di Indonesia dan Iran, rakyat mengikuti pemilihan umum untuk memberi suara menentukan siapa yang menjadi presiden.

https://geotimes.co.id/demokrasi-mengembalikan-politik-islam-ke-jalur-yang-benar/

Jadi, seandainya saya terlahir sebagai non-Muslim, pastinya saya masuk Islam sama seperti alasan orang-orang Jawa di abad ke-15 setelah didakwahi oleh Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Kalijaga dll para wali yang mengajarkan bahwa:

– rakyat jelata bisa masuk surga walaupun miskin nggak banyak harta untuk beramal, banyak sekali cara mendapatkan pahala yang gampang dan gratis (salah satunya bersedekah dengan senyum)

– semua orang punya akses untuk berkomunikasi dengan Sang Hyang Widhi (istilah Hindu yang artinya Tuhan Yang Maha Esa), cukup dengan mensucikan diri, kalau nggak ada air ya bisa bertayammum, lalu wuuus…langsung bablas berhadapan langsung Gusti Allah Subhana Wa Ta’ala, bisa menyampaikan segala uneg-uneg, memohon petunjuk dan kemudahan, juga dapat kesempatan agar dimaafkan segala kekhilafan (tentu sembari berjanji nggak akan mengulangi lagi).

– Islam memberi batasan apa yang boleh, dan apa yang nggak boleh, yang sangat make sense untuk menjadikan hidup lebih teratur dan bermartabat (terutama urusan menjaga kebersihan juga mengelola hubungan sosial dengan seisi dunia)

– Islam menyuruh menyebar kebaikan, karena “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr [103:2-3])

Makanya saya jadi heran sama muallaf modelnya Jonru, Felix Siauw, Irene Handono yang kalau “ceramah” isinya melulu menyebar kebencian terhadap pemerintah dan kepercayaan umat agama lain. Maksute opo toh? Kalau audience mereka udah Muslim yo mbok ngajari supaya bisa menjadi Muslim yang lebih baik dalam beribadah kepada Allah juga makin sayang kepada sesama (amar ma’ruf) dan menjauhi maksiat (nahi munkar), bukannya malah bikin orang lain jadi dengki mencaci maki, menghina, mengorbankan permusuhan.

Ajaran kyai mana sih yang mereka ikuti? Siapa sih yang ngajarin Islam kepada mereka sehingga dari Kristen/Katholik jadi Muslim yang begitu? Mau niru akhlaq Rasulullah dan para sahabat, tabi’in, atau malah bertabiat pembenci pendengki penghasut kayak Abu Jahal, Abu Lahab, dll?

Wallahu a’lam.

Tetangga Berbahaya

Hari-hari ini rakyat Filipina harus menghadapi pemberontakan yang lebih buruk daripada yang pernah terjadi di Indonesia: Pemberontakan kelompok Maute di Marawi.

Kelompok itu berdiri pertama kali di Butig, sebuah kota di daerah Lanao del Sur, sekitar tahun 2015 pada saat kelompok pemberontak Islamic State of Iraq and Syria (Dawlah Islamiyah = Daesh) dipimpin Khalifah Al Baghdadi mulai menguasai sebagian wilayah di Iraq dan Suriah.

Pemimpinnya, kakak beradik Omar dan Abdulla Maute, juga menyebut kelompoknya sedang berjuang mendirikan negara Islam (dawlah Islamiyah) di Filipina.

maute-terrorists

Omar dan Abdulla pernah bekerja di Timur Tengah. Keduanya sangat membenci non-Muslim dan bertekad menerapkan syariah di Lanao del Sur, pendapat mereka itu bertentangan dengan ulama dan pemerintah setempat.

Para ulama Muslim moderat di Filipina menyebutkan bahwa tidak ada satu pun ayat Qur’an yang menyuruh persekusi terhadap non-Muslim. Islam malah mengajarkan kasih sayang dan toleransi dengan ayat “la ikraha fiddin” (Al Baqarah [2:256]) yang artinya “tidak ada paksaan dalam beragama”.

Penentang kelompok Maute menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alayhi wasallam menawarkan persahabatan dengan masyarakat Katholik, Yahudi, penyembah berhala di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Bahkan Nabi mengirim surat kepada umat Katholik di Mesir untuk meyakinkan bahwa kaum Muslim menghormati kepercayaan mereka dan melindungi dari persekusi kelompok manapun. Dalam perang pun, Nabi memerintahkan perlindungan terhadap kaum wanita, orang sakit, orang berusia lanjut (apa pun agama dan etnisnya). Nabi juga melarang penyiksaan atau pemancungan tawanan perang.

Kelompok Maute sebenarnya hanya minoritas karena pemikiran fanatis dan berbahaya mereka tidak sejalan dengan mayoritas penduduk yang tinggal di Daerah Otonomi Muslim Mindanao (termasuk 39 kota di kawasan Lanao del Sur yang beribukota di Marawi).

Sama dengan BIFF (Bangsamoro Islamic Freedom Fighters) dan kelompok Abu Sayyaf, mereka menggunakan bendera hitam bertuliskan kalimat tawhid sebagai lambang gerakan pemberontakan.

http://www.philstar.com/headlines/2017/05/25/1703502/how-maute-group-came-be

Omar Maute beristrikan orang Indonesia, keluarganya tinggal di Bekasi, dia lancar berbahasa Indonesia dan menggunakan medsos untuk membangun jaringan internasional.

Aksi teror mereka dimulai dimulai dengan menyerang kompleks-kompleks militer dan memancung tentara-tentara yang tertangkap, Februari-Maret 2016. Militer kembali menguasai keadaan dalam waktu 10 hari, namun kelompok Maute tidak sepenuhnya bisa ditumpas sehingga kembali mereka menculik dan memancung korbannya bahkan menyerang penjara untuk membebaskan anggota mereka yang ditahan pihak keamanan. Di bulan November 2016, mereka berhasil merebut Butig Municipal Hall lalu mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tawhid sebelum gedung pemerintahan itu kembali direbut militer.

Polisi mendapatkan petunjuk bahwa mereka sudah mulai membangun sel-sel di Manila, namun pihak militer masih belum menemukan keberadaan mereka di ibukota negara itu.

http://www.rappler.com/newsbreak/iq/170772-fast-facts-maute-group

Sejak 23 Mei 2017, hingga sekarang sudah 3 minggu mereka berusaha menguasai Marawi dengan kekuatan sekitar 500 orang bersenjata (kelompok Maute bekerja sama dengan kelompok Abu Sayyaf dan BIFF).

https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Marawi_(2017)

Kota yang disebut “Islamic City of Marawi” itu berpenduduk lebih dari 200 ribu orang, ulama dan pemerintahnya menentang kelompok Maute.

https://armm.gov.ph/muslim-religious-scholars-wage-ideological-war-extremist-groups/

Gubernur Mindanao, Mujiv Hataman, mengecam pembakaran gereja oleh kelompok Maute karena tidak sesuai dengan ajaran Nabi yang melarang perusakan apa lagi penghancuran tempat ibadah umat beragama lain.

[quote]

“This is inhumane and unacceptable — their acts mirror that of the Khawarij and their belief betrays those of our faith. These terrorists are nothing but hypocrites who undermine the true essence of Islam.

They are un-Islamic.

The acts of the Maute Group, the Abu Sayyaf, and their ilk show that they are unfortunate reincarnations of the Khawarij — they who recite the Quran but the words do not pass beyond their throats, and who leave the religion as an arrow leaves its target and do not return as the arrow does not return to its bow.

They are the worst of the creation.

They are immature and reckless, quoting the Qu’ran and Hadith in perverse ways that fit their equally perverse cause. These infidels who represent the Khawarij of our time must be condemned and shunned away from the Muslim ummah, for they are unworthy of the promises of Allah and the pleasures of jannah (paradise).

The Prophet himself (peace be upon him) did not come to deprive those who did not follow him. Instead, he upheld their dignity and honor, and reminded us to treat others fairly regardless of faith, status, or ancestry. When the Christians of Narjan arrived in Medina during the time of the Prophet, they were not shunned away nor were they humiliated. Instead, they were allowed to pray in the mosques where Muslims also prayed. They were given a place to stay near the home of the prophet, and Muslims themselves helped the Christians pitch their tent.

[quote]

Mujiv menyatakan bahwa kewajiban Muslim Mindanao untuk melawan gerakan yang bertentangan dengan ajaran Islam (agama yang mengajarkan kasih sayang, keramahan dan kedamaian).

https://armm.gov.ph/armm-gov-mujiv-hatamans-statement-local-terror-groups-desecration-st-marys-cathedral-marawi/

Kalau lihat foto-foto di laman ini sih, mirip banget sama orang Melayu. Jangan heran kalau ternyata mereka sudah ada di tengah-tengah kita. Iya. Kita. Di sini. Di Jakarta.

maute

http://www.sunstar.com.ph/cebu/local-news/2017/06/04/photos-maute-group-members-disseminated-545556

Ayo kita awasi kelompok-kelompok radikal. Silent majority jangan lagi diam. Ada lebih dari 220 juta orang Muslim Indonesia yang cinta damai dan ber-Pancasila mendukung NKRI. Kalau semuanya kompak maka tidak akan ada satu kota pun di Indonesia yang akan mengalami nasib seperti Marawi.

Batik ILUNI UI

Akhirnya tiba juga pesanan yang saya tunggu-tunggu sejak beberapa bulan yang lalu: Kain panjang batik cap produksi ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia).

Cantik! Ada lima warna dasar: Putih, merah, biru, kuning, hijau, jadi akan mudah memadupadankannya dengan pakaian lain.

Produksinya masih skala rumahan, jadi cukup lama juga waktu pemrosesan pesanan yang jumlahnya mencapai ratusan lembar.

Saya membeli kain panjang dengan proses batik cap di atas kain katun, Rp.250,000 per lembar ukuran 110 cm x 250 cm. Ada juga kain panjang berukuran sama dengan proses batik tulis seharga Rp.850,000. Untuk bahan sutra dengan proses batik cap, ada selendang ukuran besar (55 cm x 250 cm) seharga Rp.375,000 dan ukuran kecil (35 cm x 250 cm) seharga Rp.275,000.

Di setiap paket disertakan selembar kertas mengenai filosofi desain batik itu:

  • ANYELIR, bunga yang bisa tetap mekar di tanah tak subur, menari dengan keindahannya.
  • DELIMA, si buah surga pemberi nutrisi kehidupan.

Desain ini melambangkan ILUNI UI sebagai wadah kekuatan dan potensi alumni UI yang siap memberi keindahan dan nutrisi ilmu sebagai bakti untuk Negeri dalam menjawab tantangan global.

Berhubung saya beli dua helai, sepertinya yang satu akan dibuat atasan model batwing dan satunya lagi untuk rok klok. Agak tipis dan warna dasarnya putih, berarti harus diberi vuring agar tak menerawang.

Nanti kalau udah jadi tinggal upload ke Instagram @ILUNI.UI dan Facebook @alumni.UI dengan hashtag #BatikILUNIUI deh.

*excited*

Iftari Menu – May 27, 2017

A couple of nights ago, I dined out at McDonald’s, surprised to see their new fish menu after decades of fried chicken or beef burger.

A value meal package of fish and fries with lime squash was Rp.37,500 (a la carte Rp.33,500). It reminded of my Aussie trip when I ate fish and fries almost every day because only this menu would be halal in any restaurants.

Inspired by that dinner,  for first iftar in this Ramadan 1438 Hijri then I cooked fried Nila Tilapia fish, served with fried potatoes and mayonnaise. For drink, I got nata de coco in cocopandan syrup.

FISH N FRIES

I got two chunks of Nila Tilapia fish fillets for Rp.15,405 (they sold it Rp.81,950 per kg – exchange rate: US$1 = Rp.13,300) at Superindo, Arion Mall near my home.

This species got the name because it was originally from Nile River, Egypt.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nile_tilapia

Quick and easy preparation (that’s why fast food restaurants sell it), just dipped into flour batter then deep fried. A cheap and healthy source of protein.

NATA DE COCO IN COCOPANDAN SYRUP

Chewy, jelly-like nata de coco cubes were made by fermenting coconut water. Pinoys were the ones who made it first.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nata_de_coco

I served it with Marjan syrup in cocopandan flavour, a perfect combination.


Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizkika afthartu birahmatika ya arhamarrahimin… 

​Welcome Back, PT Pos Indonesia

A bit late, but better than never. Sejak tahun 2010, saya mulai kegilaan belanja online. Waktu itu sering beli tas Kate Spade, Juicy Couture dll melalui e-Bay, buku-buku dan CD melalui Amazon, atau barang-barang fashion sisa import dan pre-loved items dari penjual lokal melalui Multiply (kemudian diakuisisi TokoBagus.com yang kini defunct menjadi OLX).

Strangely, nggak pernah pengiriman lokal menggunakan PT Pos Indonesia (nggak seperti USPS kalau barang dari Amerika, atau India Post kalau dari India), barang lokal selalu menggunakan TIKI atau JNE, belakangan juga Wahana atau J&T. Alasannya: Murah!

Tarif pengiriman melalui PT Pos Indonesia selalu jauh lebih mahal. Barang dari Jogja ke Jakarta bisa hanya Rp.5,000 per paket di bawah 1 kg, melalui PT Pos nggak akan kurang dari Rp.15,000.

Sayang sekali manajemen BUMN itu telat mengantisipasi mengingat mereka ada keuntungan sebagai “pemain lama” yang punya jaringan dari Sabang sampai Merauke sejak puluhan tahun sebelum hadir penyedia jasa kiriman barang yang lain.

Beberapa kali semasa masih sering berkirim surat dulu, saya tetap menerima walaupun hanya bertuliskan “Desrinda Syahfarin, Rawamangun, Jakarta Timur”. Kata Pak Pos waktu itu, “Kita khan ngapalin pelanggan juga, Bu,”

JNE yang paling progresif dan agresif. Dalam promo HARBOKIR (hari bebas ongkos kirim) lalu, mereka menerima order pengiriman sampai hampir satu juta paket dalam dua hari.

http://solo.tribunnews.com/2016/12/02/pengiriman-meningkat-108-persen-jne-kirim-hampir-sejuta-paket-di-hari-bebas-ongkos-kirim

Very strong branding strategy. Sekarang JNE nyaris identik dengan belanja online. Apa pun, di mana pun belanjanya, kirimnya pakai JNE. Saking seringnya, pernah saya belanja online tapi lupa mencantumkan alamat lengkap (hanya “Desrinda Syahfarin, Jl MH Thamrin No 1, Jakarta Pusat”) eh sampai lho…tanpa nama kantor atau gedung/lantai, diantar sama Pak Ahmad, kurir yang bolak balik ngantar ke Menara BCA.

Anyway itu khan perusahaan swasta, jadi senang juga saya sekarang PT Pos mulai turun bertarung, nggak lagi berlaku seperti penyedia jasa yang tambun tapi jual mahal dan malas bergerak (ditambah dulu ada stigma bahwa barang yang dikirim lewat PT Pos biasanya udah diutak-atik dan suka dikutil petugas).

Ada gratis ongkos kirim nih…mari kita belanja di Tokopedia dan kirimnya pilih PT Pos Indonesia.

Saudi Arabia = Pelanggan Terbesar Produk Militer Amerika

“Jobs, jobs, jobs,” begitu kata Donald Trump kemarin di Riyadh setelah pertemuan dengan Putra Mahkota Kerajaan Saudi Arabia, Pangeran Muhammad bin Nayef.

Dalam kesempatan itu ditanda-tangani perjanjian bisnis senilai US$110 miliar (Rp.1466 triliun) untuk meningkatkan kemampuan militer Saudi Arabia, dengan potensi dinaikkan hingga US$350 milliar selama 10 tahun ke depan.

Buat AS, meningkatnya business deal dengan Saudi itu berarti tambahan puluhan ribuan lapangan pekerjaan untuk memproduksi kapal perang, tank, sistem pertahanan rudal, dan cybersecurity technology yang dibutuhkan Saudi “untuk melawan terorisme”.

US$6 miliar (Rp.80 triliun) dialokasikan untuk perakitan 150 unit helikopter Lockheed Martin Black Hawk di Saudi Arabia, yang akan menyediakan 450 jenis lapangan pekerjaan baru di sana.

https://www.voanews.com/a/trump-to-meet-dozens-of-muslim-leaders-leaders-during-saudi-visit/3862443.html

Sekedar perbandingan, dari APBN RI 2017 yang totalnya Rp.2080 triliun, militer “cuma” mendapatkan Rp.108 triliun.

http://www.beritasatu.com/nasional/393947-2017-anggaran-kemhan-rp-108-triliun.html

Sebagian besar dana itu dialokasikan untuk TNI AD, itupun “cuma” Rp.46 triliun pertahun untuk menjaga kedaulatan bangsa dan menjamin keamanan 255 juta rakyat Indonesia yang tinggalnya tersebar di 17 ribu pulau.

https://m.tempo.co/read/news/2017/01/23/078838829/anggarkan-rp-46-triliun-untuk-2017-ini-rencana-tni-ad

Kayaknya sih selama ini cukup ya, walaupun sebaiknya bisa lebih banyak lagi, terbukti Sang Merah Putih masih berkibar dari Sabang sampai Merauke.

TNI-Polri sudah berhasil menumpas segala gerakan separatis/teroris bersenjata (DI/TII, MIT, GAM dll) namun masih harus menghadapi beberapa kelompok lagi yang mencoba memisahkan Papua, Maluku Selatan dll dari NKRI, nah…masih ditambah “kerjaan ngeselin” menghadapi ormas unyu-unyu yang ngotot mendirikan kekhalifahan (HTI) atau mendirikan NKRI Bersyariah dipimpin Sang Imam Besar (FPI).

Saya bayangkan, pasti pusing sekali kalau berada di posisi Jenderal Gatot Nurmantyo dan Jenderal Tito Karnavian yang harus mengatur anggaran keuangan yang seciprit itu. Duit Rp.108 triliun untuk menjaga 1,9 juta km persegi daratan dan 3,2 juta km persegi lautan berarti Rp.21 juta per tahun untuk menjaga setiap kilometer persegi wilayah Indonesia (baik rakyat yang tinggal di sana maupun aset negara dan kekayaan alamnya).

Beda banget ya dengan Saudi, segitu besar nilai uang yang dianggarkan untuk kegiatan militernya dengan belanja senjata dll ke Amerika. Jelas bukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Mungkin untuk menjajah Yaman, mempersenjatai “pemberontak Sunni melawan pemerintah Syiah” di Iraq dan Suriah, bahkan kalau perlu untuk menyerang Iran?

Nauzubillah min zalik.