New Blush On & Mascara

Entah kenapa Women’s Day dirayakan salah satunya dengan diskon khusus di situs-situs belanja online tanggal 8 Maret 2017 yang lalu. Anyway jadi beli blush on dan mascara lagi deh (udah hampir setahun nggak pakai sejak yang lama expired lalu dibuang) dari http://www.BerryBenka.com

Lumayan, diskon 40% untuk produk kedua yang harganya lebih rendah sehingga saya cukup membayar Rp.107,500 untuk belanjaan saya (sudah termasuk ongkos kirim.
Dalam rangka ulang tahun situs itu yang ke-empat, pesanan saya dikirim dalam kotak yang cantik sekali. Edisi khusus. Di bagian dalam tutupnya tercetak “COLLECTOR’S EDITION @SARKODIT FOR BERRYBENKA’S 4th BIRTHDAY”.

OK. Let me try these new products.

Silkygirl Shimmer Duo Blush (Sunny Glow)

Tahun lalu saya pakai produk Wardah. Ternyata untuk tone warna kulit terang bagusnya pakai yang semu oranye, bukan merah muda. Kalau yang bubuk begini, bisa dipakai sampai 2 tahun setelah kemasannya dibuka.

Penting: Jaga kebersihan kuasnya! Rajin-rajin dicuci atau ganti baru kalau perlu.

Wet N Wild Mega Length Waterproof Mascara (Very Black)

Mascara hanya memiliki shelf life 2-3 bulan. Harus segera dibuang kalau mulai bergumpal atau berbau tidak enak. Hindarkan berbagi pakai dengan orang lain mengingat mata adalah organ tubuh yang cukup sensitif.

Makanya suka gimana gitu kalau didandani oleh make up artist. Saya biasanya bawa mascara sendiri.

Yang waterproof begini bagusnya nggak luntur kalau berwudhu. Pembersih yang paling efektif: Minyak zaitun murni.

MARKICAN. MARI KITA CANTIK.

Rawamangun Kebanjiran!

Ibu saya tinggal di Rawamangun sejak tahun 1967, waktu baru masuk SMA 1 Boedi Oetomo. Beliau kemudian menikah lalu pindah ke Magelang, Jawa Tengah, tahun 1974 karena ayah saya waktu itu bertugas di sana sebagai instruktur di AKABRI (di kota kecil itulah saya lahir).

Beliau tidak pernah mengalami banjir di rumahnya ini sampai kejadian tahun 2002 dulu saat air masuk ke rumah setinggi mata kaki. Karena akses jalan sebagian besar tidak bisa dilalui, banyak penduduk DKI Jakarta yang pesta pernikahannya berantakan padahal sudah memilih “tanggal cantik” 02-02-02.

Tadi pagi pukul 4:20 WIB, beliau membangunkan saya saat hujan lebat turun sejak beberapa puluh menit sebelumnya.

“Banjir! Air sudah hampir masuk rumah!”

Saya pun turun dari kamar di lantai 2, terpana melihat air sudah menggenang di pekarangan menyentuh ujung teras rumah. Dari saluran pembuangan air mesin cuci, air mulai menggenang di samping kamar mandi.

Begonya, saya hanya terpaku sambil berdoa semoga hujan segera berhenti. Doa saya kali itu tidak segera terkabul, dalam waktu 10 menit ternyata air masuk deras dari depan.

Pukul 4:50 WIB, air di jalanan sudah setinggi 20 cm. Di pekarangan rumah tingginya 15 cm. Di lantai 1 rumah saya tingginya 5 cm.

Selembar karpet (alas lantai di kamar Alif) tidak sempat diangkat, keburu tergenang sewaktu kami sedang memindahkan springbed-nya. Beberapa bantal dan selimut jatuh ke genangan air. Lemari-lemari buku pun saya pasrahkan, terlalu banyak buku yang harus dipindahkan malah akan jatuh ke air semua kalau dipaksakan saat itu juga.

Browsing sana sini, ternyata debit air memang tinggi sekali sehingga Jalan Pemuda di dekat rumah pun tergenang air setinggi 40-60 cm.

http://news.metrotvnews.com/read/2017/02/21/660933/hujan-deras-beberapa-wilayah-jakarta-banjir

Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, sudah mengkhawatirkannya sejak tahun lalu.

“(Soal banjir), 2016 tidak mengkhawatirkan bagi saya. Justru yang paling bahaya (adalah pada) 2017. Kenapa? Karena kemarau panjang ini, La Nina ini, lanjutan hujan paling besarnya itu justru pada 2017…” katanya (http://vik.kompas.com/ujianahok/).

Pukul 6:50 WIB, hujan masih turun tapi air sudah surut, tinggal menggenang di jalan.

Sejam kemudian, hujan tinggal rintik, waktunya bebersih rumah sesudah sekitar 2.5 jam tergenang.

Di waktu yang sama, jalan di depan rumah teman sekantor yang tinggal di RT sebelah ternyata masih belum surut genangannya.

Hujan akhirnya berhenti sekitar pukul 9:30 WIB. Sekarang waktunya kerja keras mencuci dan menjemur karpet, bantal, sprei, selimut, handuk, buku-buku yang basah baik karena terendam maupun terjatuh ke genangan saat air masih memenuhi rumah.

Hidup pun kembali normal. Abang ketupat sayur, tukang roti dll pun beredar seperti biasa. Kebanyakan warga yang tinggal di rumah baru memang sebagian besar tidak kebanjiran karena membangun rumahnya paling tidak 50 cm lebih tinggi dari jalan. Yang kebanjiran (seperti keluarga saya) adalah warga yang sudah puluhan tahun tinggal di Rawamangun dan rumahnya masih “model lama” (dibangun sebelum tahun 1980).

Wis yo…biasanya sih kejadian begini cukup sekali saja, dan hanya satu hari, dalam waktu lima tahun toh? 

(mungkin rumah di Rawamangun ini juga kebanjiran tahun 2007 dan 2012 lalu saat dikontrakkan semasa saya masih tinggal di Matraman)

Dia Menolak Ikut Akselerasi

Percakapan tadi pagi:

“Bunda, pagi ini aku ada acara “palang pintu” di sekolah, harus pakai celana bo’im, patungan buat beli roti buaya, soalnya anak kelas IX lagi UCUN (uji coba ujian nasional),”

“Oooo…tradisi betawi kalau kawinan itu ya? Eh, Mas Alif juga siap-siap ya…nanti bulan Mei juga ikut UN,”

“Hah? UN yang buat anak kelas IX? Aku khan baru kelas VII?”

“Lho, khan Bunda udah ngajarin supaya Mas Alif bisa ngerjain soal-soal UN,”

“Tapi khan aku belum belajar pelajaran kelas VIII!”

“Ih, ngapain? Yang penting bisa ngerjain UN khan? Ya udah, pokoknya latihan supaya bisa benar mengerjakan soal aja, nggak penting itu belajarnya!”

“Emang kalau aku bisa ngerjain UN, trus gimana?”

“Ya Mas Alif bisa pilih, mau nanti bulan Juli langsung masuk SMA atau lanjut biasa aja naik kelas VIII,”

“Aku mau biasa aja naik kelas VIII, Bunda…”

“Lho? Enakan masuk SMA dong…jadi umur 13 tahun udah SMA, tahun depan umur 14 tahun kalau bisa lulus UN lagi ya langsung kuliah deh,”

Dia tercenung.

“Kurang dong belajarnya, Bunda…”

“Ih, buat apa banyak-banyak belajar? Yang penting bisa ngerjain soal-soal Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi!”

“Tapi khan harus belajar yang lain-lain juga, bukan cuma (mata pelajaran) yang (di-)UN(-kan)…”

“Ah, nggak penting!”

“Penting, Bunda. Belajar SBK (seni/budaya/kesenian) itu biar aku nanti bisa konser. Prakarya supaya kapan-kapan aku bisa jualan kerajinan tangan. PPKN supaya aku ngerti sejarah. Penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan) supaya aku biasa olahraga jadi badannya sehat…”

Giliran gw yang terdiam. Itu anak kok malah lebih ngerti bahwa hakikat sistem pendidikan adalah menjadikan anak terdidik…bukan sekedar untuk mengejar nilai dan kelulusan. Yo wis lah, Nak. Sak karepmu…mau tiga tahun di SMP lalu tiga tahun lagi di SMA aja ya? Nggak usah akselerasi.

Ada anak lain yang umur 12 tahun sudah kuliah di Canada (http://global.liputan6.com/read/2592594/bocah-12-tahun-asal-indonesia-jadi-mahasiswa-termuda-di-kanada), beberapa anak masuk UGM walaupun umur baru 14 tahun (http://news.okezone.com/read/2015/08/18/65/1198309/ini-lima-mahasiswa-baru-ugm-di-usia-14-tahun), biarin deh anak gw lulus SMA entar umur 17 tahun supaya puas menikmati masa teenager dengan teman sebayanya…ya contohnya ikut kegiatan “palang pintu” dll itu.

Pemimpin Komunis = Muslim, Bukan Kafir 

Sepertinya banyak yang menganggap bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) dulu adalah organisasi orang-orang tak bertuhan, kafir. Padahal tidak demikian. Komunisme (juga kapitalisme dan banyak -isme lainnya) adalah ideologi yang penganutnya bisa siapapun, orang beragama apa pun maupun tidak beragama.

Di Afghanistan buktinya. Yang menegakkan Republik Demokratik Afghanistan (1978-1992, sebelum dikuasai kelompok Taliban lalu diubah namanya menjadi Emirat Afghanistan) adalah kelompok sosialis PDPA yang didukung Soviet. Pemimpinnya, Nur Mohammad Taraki dan para penggantinya semua Muslim  (bisa dibaca lebih lanjut di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Democratic_Republic_of_Afghanistan).

Ideologi adalah pandangan politik. Karena perbedaan ideologi, sebagian Muslim berpendapat bahwa amirul mukminin haruslah Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu dan keturunannya (disebut kelompok “syiatul Ali” disingkat “syiah”), sebagian lain mendukung kekhalifahan Khulafaur Rasyidin yang lain dilanjutkan dengan dinasti Umayyah (kelompok ini menyebut diri “sunni”). Toh kedua kelompok sama-sama Muslim, sama bersyahadat-shalat-puasa-zakat-haji, berpedoman pada Qur’an yang persis sama walaupun berbeda pandangan mengenai ulama mana yang diikuti (seperti di Indonesia pengikut Rizieq sempat ngotot pengen Shalat Jum’at di jalan raya sementara pengikut Gus Mus menentangnya).

Bagaimana dengan gerakan ideologi komunisme di Indonesia?

MUSSO, PEMIMPIN GERAKAN PKI 1948

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.
Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. “Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo,” kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

“KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso, ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. “Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah,” tukasnya.

DN AIDIT, PEMIMPIN GERAKAN PKI 1965

Achmad Aidit lahir pada 30 juli 1923 di Jalan Belantu 3, Pangkallalang, Belitung. Ayahnya Abdullah Aidit dan ibunya Mailan. Abdullah adalah mantri kehutanan, jabatan yang cukup bergengsi di Belitung ketika itu. Mailan lahir dari keluarga ningrat Bangka Belitung. Ayah Mailan bernama Ki Agus Haji Abdullah Rachman. Title “ki” pada nama itu mencirikan ia ningrat. Dia juga tuan tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini dengan ujung jari. Maksudnya, sejauh menunjuk, itulah tanah mereka. Adapun Abdullah Aidit, anak Haji Ismail, adalah seorang pengusaha ikan yang makmur.

Selain mudah bergaul dengan tuan-tuan Belanda, anak-anak Abdullah juga gampang masuk Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah menengah pemerintah Belanda ketika itu.

Abdullah punya delapan anak, semuanya laki-laki. Dari perkawinan dengan Mailan, lahir Achmad, Basri, Ibrahim (meninggal dunia ketika dilahirkan), dan Murad. Abdullah kemudian menikah lagi dengan Marisah dan melahirkan Sobron dan Asahan. Keenam anaknya itu menyandang nama belakang Aidit- nama keluarga. “Namun bukan marga”, kata Ibaruru Aidit, putri sulung D.N. Aidit. Dua anak lainnya, Rosiah dan Muhammad Thoib, adalah anak bawaan Marisah dengan suami sebelumnya.

Orang-orang di Jalan Belantu mengenal Achmad Aidit sebagai tukang azan. Seperti di sebagian besar wilayah Indonesia saat itu, Belitung juga belum mempunyai pengeras suara guna mengumandangkan azan. “Karena suara Bang Achmad keras, dia kerap diminta mengumandangkan azan,” kata Murad Aidit.

DN sebenarnya singkatan dari Djafar Nawi, nama yang digunakannya setelah dewasa. Belakangan diganti menjadi Dipa Nusantara, mungkin supaya terdengar lebih revolusioner.

Peran Aidit dalam “kup 30 September 1965″ memang kasih misteri. Sejumlah sejarahwan, juga sejumlah kalangan militer, yakin PKI dalang penculikan dan pebunuhan tujuh jendral Angkatan Darat. Karena PKI terlibat, maka Aidit pun, sebagai Ketua Comite Central, dituding sebagai otaknya.

Aidit mengawali “karier politiknya” dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai “sarang pemuda garis keras” pada awal kemerdekaan. Di tempat ini berdiam antara lain, Anak Marhaen Hanafi (pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba), Adam Malik dan Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi). Para penghuni Menteng 31 sempat menculik Sukarno dan memaksa si Bung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sesuatu yang kemudian di tolak Bung Karno. Di kelompok Menteng 31, Aidit sangat dekat dengan Wikana, seorang pemuda sosialis. Aidit sering disebut-sebut berperan dalam pembrontakan PKI di Madiun pada tahun 1948.

Bersama “kelompok muda” partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada Kongres PKI 1954, pemimpin PKI beralih ke generasi muda. Toh partai semacam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Kerja keras Aidit membuahkan hasil pada pemilu PKI tahun 1955, PKI masuk “empat besar” setelah PNI, Masyumi, dan Nahdatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.

Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini. Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum “diberesi”. Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka kemudian menembaknya hingga mati. Versi lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

SUMBER:

https://m.merdeka.com/peristiwa/cerita-musso-tokoh-pki-yang-ternyata-anak-kiai-besar-kediri-dan-orang-kiri-1.html

http://desimpunj.blogspot.co.id/2016/04/biografi-aidit.html

Shalat Itu Hak, Bukan Kewajiban

Seorang teman menulis di Facebook:

“NASEHAT GUS DUR

Bila engkau anggap shalat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.

Bila kau anggap shalat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.

Anggaplah shalat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.

Anggaplah shalat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah Subhana Wa Ta’ala.

Anggaplah shalat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah kepada-Nya.

Anggaplah shalat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.

Bayangkan ketika “azan berkumandang”, tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.

Bayangkan ketika kau “takbir”, Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.

Bayangkanlah ketika “rukuk”, Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya.

Bayangkan ketika “sujud”, Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: “Aku Mencintaimu hamba-Ku”.

Bayangkan ketika kau “duduk di antara dua sujud”, Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : “Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu”.

Bayangkan ketika kau memberi “salam”, Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.”

Beberapa Muslim Indonesia (seperri saya) memang aneh, shalat dianggap kewajiban yang seolah jadi beban.

Sejatinya, shalat adalah hak. Privilege. Cuma Muslim yang memiliki keistimewaan bisa menghadap Tuhan Yang Maha Esa minimal 17x sehari. Like knocking on heaven’s door…masa’ nggak dibukakan itu pintu surga kalau saban hari rajin kita ketuk?

Makanya Muslim non-Indonesia membahasakannya sebagai “pray” or “namaz” or whatever in their local language which means “berdoa”. Saya baru sadar saat seorang teman kalau sujud selalu lamaaaaa…banget.

“Pourquoi as-tu mis longtemps à prosterner pendant la prière?” tanya saya.

Ternyata setelah bacaan wajib, mumpung jidat nempel ke bumi (saat apa pun yang kita ucapkan pasti tertransmisikan sampai ke langit tertinggi), teman saya itu selalu mengucapkan segala doa dan harapan pada SETIAP KALI sujud.

Ibaratnya nih ya, ngadu ke Gubernur DKI aja effort harus gede. Datang pagi-pagi ke Balaikota, ambil nomor antrian, waktunya terbatas hanya Senin-Jum’at pagi mulai pukul 8:00 WIB kadang hanya sejam secara Koh Ahok sibuk banyak acara nggak bisa seharian duduk nemuin warga. Kalau sial paling ketemu stafnya. Dan secara aduan dan permintaan yang masuk mungkin ratusan setiap hari, nggak ada kepastian akan dibantu atau diberikan solusi.

Nah kalau sebagai Muslim kita ini dapat privilege, akses langsung bertemu dengan Sang Maha Pencipta, nggak usah ngantri dan bisa kapan saja, di mana saja,  then why dont we us this opportunity? 

Mumpung masih diberi waktu, mumpung pasti akan dibukakan pintu, dan Allah sudah jelas-jelas berfirman: “Mintalah, pasti akan Aku beri!” (Surat Ghafir [40:60])

Jadi, markishal…mari kita shalat…

​Ketika Kanjeng Nabi Menangis Saat Mendengar Qur’an Dibacakan

Random hadith from my apps on this Friday morning:


حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبِيدَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ يَحْيَى بَعْضُ الْحَدِيثِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏‏ اقْرَأْ عَلَىَّ ‏”‏‏.‏ قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ ‏”‏ فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي ‏”‏‏.‏ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ ‏{‏فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا‏}‏ قَالَ ‏”‏ أَمْسِكْ ‏”‏‏.‏ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ‏.‏”

Diriwayatkan oleh `Abdullah bin Masud:

Nabi salallahu alayhi wassalam berkata: “Bacakan (Qur’an) kepadaku,”

Aku berkata, “Akankah aku membacakannya kepadamu walaupun telah diwahyukan kepadamu?”

Beliau berkata, “Aku suka mendengarkan (pembacaan Qur’an) dari orang lain.”

Maka aku bacakan Surat An Nisa’. Ketika sampai bacaanku pada “fakayfa iza ji’na min kulli ummati bi syahidin wa ji’na bika ‘ala ha’ula ‘i syahida” [4:41] seketika beliau berkata, “Berhenti!” lalu aku menyaksikan berlinangan air matanya.

(Shahih Al Bukhari)

Apa arti ayat itu? Tafsir KH Quraish Shihab: “Bagaimanakah keadaan mereka yang kafir dan menentang apa yang diperintahkan Allah kepadanya, ketika Kami mendatangkan semua nabi sebagai saksi atas kaumnya pada hari kiamat, dan Kami mendatangkan kamu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas kaummu yang di antaranya terdapat orang-orang yang menentang itu?”

Apa sih perintah Allah?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” [51:56]

Perintah-perintah lain dijabarkan dalam banyak ayat diantaranya agar Muslim menjaga lidah, kemaluan, tangan dari perbuatan dosa. Lidah jangan sampai menyakiti hati orang lain atau menyebarkan kata-kata bohong. Janganlah berzina. Cegah tangan dari mengambil yang bukan hak kita.

Bayangkan sedihnya hati Kanjeng Nabi jika harus bersaksi atas kaum Muslimin dan Muslimat yang meninggalkan shalat, dan tidak menjaga lidah/kemaluan/tangannya…

😥

​Senangnya Pakai TCash

Sudah beberapa bulan ini saya menggunakan TCash, product mobile cash dari Telkomsel.

https://digitalpayment.telkomsel.com

Alat pembayaran ini berupa kepingan yang bisa ditempelkan di belakang ponsel atau disimpan di dompet saja.

Pengisian saldo bisa gratis di Grapari Telkomsel, atau melalui transaksi perbankan dengan transfer lewat jaringan ATM Bersama (biaya transaksi Rp.6,500). Cara menggunakannya mirip dengan alat pembayaran non tunai lainnya, tinggal di-tap ke mesin di kasir toko/restaurant yang menerima pembayaran dengan TCash, lalu saldo didebet setelah memasukkan pin. Jika digunakan untuk pembayaran transaksi online, maka pemilik harus memasukkan pin juga angka verifikasi yang dikirim via sms ke nomor telpon yang didaftarkan terkoneksi dengan TCash itu.

Promo-promonya menarik. Tahun lalu ada gratis makan di KFC dll untuk pembelian perdana, tahun ini cash back Rp.20,000 untuk pembelanjaan pertama bagi pelanggan baru. Ramadhan tahun lalu (Juni 2016), jadi alat pembayaran andalan sehingga saya nyaris seperti daily customer yang setiap petang beli Big Bite di 7-Eleven untuk berbuka puasa (mumpung harganya hanya @Rp.9,000).

Sampai akhir tahun lalu, saya rajin mengisi saldo TCash karena lumayan sekali diskonnya untuk makan-makan (potongan harga Rp.10,000 di KFC atau 20% di McDonald’s).

Akhir pekan lalu, karena Alif ingin makan burger di McD lagi, jadilah saya mengisi saldo TCash saya.

“06/02/17 20:05 Kredit ke Acc. TCash Anda sebesar Rp 100000. Terima transfer dari ATM/EChannel. Saldo anda Rp 109100. No Ref: 0602172005136418”

Rupanya saya ketinggalan info bahwa promo diskon 20% di McD itu sudah berakhir seminggu sebelumnya. Latest update ada di https://digitalpayment.telkomsel.com/promo

Karena sudah terlanjur memesan di depan kasir (dan antrian di belakang terlanjur panjang, dan Alif terlanjur kelaparan)…akhirnya tetap saya bayar deh dengan TCash.

“Anda telah melakukan Pembelian melalui TCASH TAP Rp. 46500  di MCD ARION MAL pada tgl 06 February 2017 20:10:39 no_ref:0602172010117588 .Saldo anda 62,600. Info *800#”

Surprise! Ternyata saya malah dapat cash back Rp.20,000! Artinya diskon 43%! Ah, senangnyaaaa…

“YEAY! Dpt tambahan Kembalian 20rb dari TCASH!Post keberuntungan #pakeTCASH di sosmed&dptkan kejutannya. SKB. Ini Program Retention TCASH. Info188 tsel.me/yeay 575386305513 Lihat promo TCASH lainnya di tsel.me/tappromo”

“06 February 2017 20:10:39 CASH BACK di Cashback Tcash Yeah MCD sebesar RP. 20000.0 berhasil dengan No. Ref:0602172010147592 Saldo anda 82,600. Info *800#”

Beberapa hari lalu, saya menerima broadcast di bawah ini.

“YEAY! Berbagi kasih dg TCASH TAP. Buy 1 Get 1 Free Paket Hotz di KFC 12-15 Feb. Ekspresikan keberuntungan #pakeTCASH di sosmed. SKB. Info 188 tsel.me/tappromo”

Meluncur deh ke KFC…

“Anda telah melakukan Pembelian melalui TCASH TAP Rp. 33500  di KFC RAWAMANGUN SQUARE pada tgl 14 February 2017 19:35:45 no_ref:1402171935319213 .Saldo anda 49,100. Info *800#”

Guess what? Dapat Rp.20,000 lagi!

“YEAY! Dpt tambahan Kembalian 20rb dari TCASH!Post keberuntungan #pakeTCASH di sosmed&dptkan kejutannya. SKB. Ini Program Retention TCASH. Info188 tsel.me/yeay 673550918074 Lihat promo TCASH lainnya di tsel.me/tappromo”

“14 February 2017 19:35:45 CASH BACK di Cashback Yeay KFC sebesar RP. 20000.0 berhasil dengan No. Ref:1402171935349220 Saldo anda 69,100. Info *800#”

I LOVE THIS CUSTOMER RETENTION PROGRAM!

Acara hari ini: Nonton yuuuuk…bayarnya #pakeTCASH aja.